Sejarah Awal Perkembangan Covid 19

Sejarah Awal Perkembangan Covid 19 – Corona atau yang bernama lain Virus SARS-CoV-2 pertama kali terdeteksi di China pada akhir 2019 dan pada Juni 2021, telah menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan lebih dari 178 juta kasus yang dikonfirmasi dan 3,9 juta kematian.Nama Corona diambil dari Bahasa Latin yang berarti mahkota, sebab bentuk virus corona memiliki paku yang menonjol menyerupai mahkota dan korona matahari. Para ilmuan pertama kali mengisolasi virus corona pada tahun 1937 yang menyebabkan penyakit bronkitis menular pada unggas.

Selama beberapa bulan terakhir, para ilmuwan telah mencapai konsensus luas bahwa virus menyebar sebagai akibat dari “zoonotic spillover” atau “virus yang melompat” dari hewan situs slot gampang jackpot yang terinfeksi ke manusia, sebelum menjadi sangat menular dari manusia ke manusia.Virus corona bertanggung jawab atas beberapa wabah di seluruh dunia, termasuk pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003 dan wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Korea Selatan pada tahun 2015.

Penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 atau yang dikenal juga dengan coronavirus masih satu keluarga dengan coronavirus penyebab wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Ketiga wabah ini memiliki kecepatan infeksi yang berbeda dalam menjangkiti para korban. Di antara ketiganya, COVID-19 adalah yang tercepat dalam mengakibatkan infeksi antar manusia.

Asal Virus Covid 19

Penyakit COVID-19 telah menjadi pandemi kelima yang didokumentasikan sejak pandemi flu 1918. COVID-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan, Cina, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Beberapa kasus awal terkait dengan pasar basah di Kota Wuhan, tempat klaster pertama infeksi Covid-19 Judi Online tercatat. Coronavirus penyebab COVID-19 secara resmi dinamai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) berdasarkan analisis filogenetik dan taksonomi.

Dokter saat ini mengenali tujuh jenis virus corona yang dapat menginfeksi manusia. Jenis yang paling umum yaitu:

1. 229E (alpha coronavirus)
2. NL63 (alpha coronavirus)
3. OC43 (beta coronavirus)
4. HKU1 (beta coronavirus)

Jenis lain yang sebenarnya cukup jarang malah menyebabkan komplikasi yang lebih parah yaitu MERS-CoV, yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan SARS-CoV, virus yang bertanggung jawab atas Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus Corona bersifat zoonosis, artinya ia merupakan penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia. Rabies, Malaria, merupakan contoh dari penyakit zoonosis yang ada. Begitu pula dengan MERS yang ditularkan dari unta ke manusia.

Perekonomian mulai membaik seiring berjalannya waktu meskipun belum signifikan. Namun, nyaris di penghujung tahun 2021, mutasi baru dari virus corona yang ditemukan pertama kali di Wuhan China kembali menggegerkan publik. Pasalnya, dunia yang tadinya mulai berdamai dengan keadaan, harus cemas lantaran varian Omicron.

Fakta Mengenai Omicron

Fakta Mengenai Omicron

Fakta Mengenai Omicron

Fakta Mengenai Omicron – Omicron adalah varian virus baru penyebab Covid-19 yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada akhir November 2021 lalu. Sejak pertama kali diumumkan, varian Omicron Covid telah menyebar ke berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin pada Kamis, lalu melaporkan satu kasus Omicron Indonesia yang dialami oleh salah satu petugas pembersih di situs judi slot online Wisma Atlet Jakarta.
Kemudian, pada Sabtu, Kemenkes mengumumkan kembali dua pasien yang terkonfirmasi terpapar varian Omocron, sehingga total kasus Omicron di Indonesia bertambah menjadi tiga orang.
Berikut tiga hal mengenai varian Omicron, yang dirinci dalam konferensi pers gugus tugas multi-kementerian Covid-19 Singapura secara virtual

1. Omicron lebih menular daripada varian Delta

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan antara akhir Oktober dan awal November 2021, Singapura memiliki sekitar 3.000 kasus Delta sehari. Jumlah kasus Omicron rupanya tercatat melebihi angka tersebut dalam beberapa kesempatan. Pada puncaknya, infeksi Delta berlipat ganda setiap enam hingga delapan hari. Di sisi lain, infeksi Omicron dapat berlipat ganda hanya dalam dua hingga tiga hari.

2. Gejala infeksi Omicron tidak separah Delta

Meski lebih menular, gejala infeksi omicron rupanya tidak separah delta, apalagi bagi orang yang sudah menerima vaksinasi dua dosis dan booster. menurut judi slot gacor terbaru mengatakan ini konsisten dengan data internasional dan apa yang disaksikan Singapura. Sejauh ini, Singapura memiliki 2.252 kasus Omicron dan, dari jumlah tersebut, tiga membutuhkan suplementasi oksigen, dan ketiganya tidak memerlukan alat oksigen setelah tiga hari dinyatakan terpapar.

Sejauh ini, kata situs slot gampang jackpot, tak satupun dari kasus Omicron telah dirawat di rumah sakit di unit perawatan intensif (ICU). Jika 2.252 kasus terinfeksi oleh varian Delta, Singapura akan memiliki sekitar 30 orang yang membutuhkan suplementasi oksigen, dirawat di ICU atau meninggal.

Namun, seperti yang terlihat dari pengalaman negara-negara lain seperti Inggris, risiko infeksi parah Omicron yang relatif lebih rendah tetapi jumlah infeksi yang tinggi secara keseluruhan dapat berarti jumlah rawat inap yang jauh lebih tinggi.

3. Vaksin booster bisa hindari risiko infeksi

Melihat poin kedua, vaksin booster atau dosis ketiga ini memainkan peran penting bagi ketahanan tubuh terhadap varian terbaru. Ini dapat memberikan perlindungan substansial terhadap gejala infeksi parah.

Namun direktur pelayanan medis Kementerian Kesehatan Kenneth Mak mengatakan masih ada potensi peningkatan risiko infeksi ulang di antara orang-orang yang sudah divaksin dan sebelumnya telah pulih dari infeksi Covid-19.

Kebijakan Baru: Penumpang Pesawat Wajib Sertakan Hasil PCR Negatif!

Kebijakan Baru: Penumpang Pesawat Wajib Sertakan Hasil PCR Negatif!

Mulai pada hari Minggu tanggal 24 Oktober 2021 kemarin, penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta diharuskan menyertakan hasil PCR negatif yang berlaku maksimal di 2×24 sejak sample diambil sebelum keberangkatan baik dalam penerbangan domestik maupun international. Hal ini disesuaikan dengan Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor 88/2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara Pada Masa Pandemi COVID-19.

Kebijakan Baru: Penumpang Pesawat Wajib Sertakan Hasil PCR Negatif!

Selain diwajibkan membawa hasil PCR negatif, penumpang pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta juga diharuskan membawa surat keterangan sudah vaksin paling tidak sudah menerima dosis pertama.

Penumpang Pesawat Dapat Melakukan Test di Airport Health Center

Bandar Udara Soekarno-Hatta sediakan sarana test RT-PCR di Airport Health Center yang berada di Terminal 3 dan Terminal 2.

Setiap terminal ada service walk-in (calon pemumpang langsung tiba ke lokasi), lalu pre-order service (calon penumpang lakukan booking lebih dulu salah satunya lewat program travelin), selanjutnya drive thru service.

Airport Health Center dioperasionalkan oleh partner yang mempunyai kapabilitas di bagian itu.

Berdasar koordinir beberapa stakeholder, klikwin diputuskan jika hasil test yang sudah dilakukan mulai 24 Oktober 2021 di service RT-PCR drive thru Airport Health Center di Terminal 3, bisa dijumpai dalam kurun waktu range 3 jam.

Mendapat Kritik Dari Masyarakat

Meskipun memiliki niat yang baik, namun keputusan satu ini menuai berbagai macam kritik dari masyarakat. Tak hanya tinggal diam, Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Kemaritiman dan Investasi yang juga menjabat situs judi slot terbaik sebagai koordinator PPKM Jawa-Bali, menjelaskan bahwa kebijakan test PCR di Bandara Soekarno Hatta ini diberlakukan agar dapat lebih menekan kasus COVID-19 saat tingginya mobilitas masyarakat.

Belajar dari banyak negara yang lain telah lakukan kelonggaran dan patuh prosedur kesehatan dan perolehan vaksinasi COVID-19 yang semakin tinggi tetapi kasus masih tetap naik. Sebutlah saja Inggris yang alami kenaikan banyaknya pasien COVID-19 di dalam rumah sakit. Oleh karena itu, saat sebelum terjadi peningkatan, pemerintahan berusaha tekan berlangsungnya penyebaran kasus.

Luhut juga minta warga tidak emosional dalam hadapi peraturan pemerintahan.

Dalam kesempatan yang sama, Luhut sampaikan jika tidak cuma penumpang pesawat saja yang test PCR tetapi juga model transportasi lain. Tetapi, tidak diterangkan lebih detil berkaitan hal itu.

“Secara bertahap penggunaan tes akan dilakukan pada transportasi lain dalam mengantisipasi periode libur Natal dan Tahun Baru,” terang Luhut.